Tampilkan postingan dengan label Karya ilmiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya ilmiah. Tampilkan semua postingan

Contoh Karya Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komputer (ICT) telah berkembang dengan pesat dalam semua aspek kehidupan kita. Tidak terkecuali terhadap MAN Sidoarjo. Pembelajaran yang menggunakan media berbasis komputer (ICT) merupakan terobosan yang baru di MAN Sidoarjo yaitu dimulai tahun 2004 yang lalu. Pembelajaran dilakukan dengan menggunakan seperangkat komputer atau laptop, LCD, dan perangkat audio. Arah inovasi ini adalah agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan efektif.
Dalam implementasinya, inovasi ini memang diterima dengan serta-merta sebagai keniscayaan perubahan. Namun demikian, tidak semua guru dapat mengadopsi inovasi ini. Masih banyak di antara guru, khususnya guru senior kurang akrab dengan komputer. Para guru tersebut tetap menggunakan pendekatan konvensional atau telah menggunakan pendekatan pembelajaran yang baru tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran berbasis ICT. Sementara itu beberapa guru yunior memang mau menerima inovasi tersebut dan menerapkannya dalam pembelajaran, meskipun media presentasi pembelajarannya bukan hasil karya sendiri melainkan membeli paket-paket yang sudah terjual bebas..
Demikian pula dengan pembelajaran bahasa Indonesia. Agar pembelajaran menjadi lebih menarik dan berhasil, beberapa guru menggunakan media presentasi pembelajaran dengan cara membeli dan menggunakannya secara langsung. Misalnya media pembelajaran pembacaan puisi, drama, atau film.
Dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 terdapat beberapa topik pembahasan pembelajaran menggunakan wacana rekaman televisi, Namun demikian penggunaan media pembelajaran yang berhubungan dengan topik ini mengalami kendala. Kendalanya antara lain :
a. Media pembelajaran yang berasal dari televisi khususnya berita belum pernah ada, dan belum pernah dibuat apalagi dijual bebas; padahal topik tersebut beberapa kali muncul dalam silabus KTSP 2006 bahasa Indonesia SMA / MA.
b. Pembuatan media pembelajaran ini membutuhkan kemampuan yang kompleks dan relatif tinggi, khususnya bidang software & hardware komputer, yaitu desain grafis, pembuatan animasi, editing gambar dan suara.
c. Pembuatan media pembelajaran harus memiliki langkah-langkah dan prosedur tertentu sehingga cukup layak dianggap sebagai media pembelajaran.
d. Bila disampaikan hanya dengan metode pemberian tugas, siswa dan guru kesulitan menemukan stasiun televisi mana yang akan menyampaikan topik tertentu, pada hari apa dan jam berapa, karena banyak stasiun televisi.
e. Siswa sering tidak melaporkan tugas tersebut. Guru juga seringkali terlewatkan acara televisi tersebut. Pembahasan menjadi tidak efektif karena melebar dan seringkali antara guru dan siswa tidak memiliki referensi yang sama akibat selanjutnya memiliki pemahaman yang berbeda.
f. Penyampaian dengan metode ceramah, pembelajaran menjadi ’teacher centered’ siswa hanya medengarkan saja dan berakibat tidak menarik perhatian siswa dan membosankan.
g. Saat evaluasi performansi siswa, topik menjadi melebar karena pemahaman atas referensi yang berbeda. (Hasil observasi dan wawancara dengan siswa kelas X-1 dan wawancara dengan guru bahasa Indonesia.)
Pada 8-14 November 2006 lalu, MAN Sidoarjo yang diwakili oleh peneliti sendiri telah memenangi .Medali Perak (Silver Prize) untuk kategori Lomba Pembuatan Media Presentasi Pembelajaran (MPP) yang diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Menengah Umum Departemen Pendidikan Nasional bersama Departemen Agama.
Berbekal pengalaman pembuatan media pembelajaran itulah, peneliti merasa sangat perlu membuat media pembelajaran untuk mata pelajaran bahasa Indonesia, khususnya topik rekaman televisi ini. Lebih lanjut, bila media pembelajaran ini dianggap memiliki kelayakan dapat disebarkan pada para guru bahasa Indonesia lain yang membutuhkannya. Demikian langka dan urgennya bagi pembelajaran, maka media pembelajaran ini segara harus dibuat.
Akhirnya, peneliti membuat Media Presentasi Pembelajaran “Sidoarjo Menangis“ (untuk selanjutnya istilah ini disingkat MPP “SM“). MPP “SM“ ini memuat rekaman berita televisi yang berhubungan dengan bencana yang berada di konteks sosial peneliti, yaitu bencana lumpur panas Lapindo Brantas. Sengaja peneliti mengambil objek ini karena bencana ini telah menjadi wacana nasional yang diperkirakan akan berlangsung hingga 30 tahunan ke depan.
Problematikanya, apakah Media Presentasi Pembelajaran (MPP) “Sidoarjo Menangis“ ini apakah dapat diterima oleh para siswa dan guru, dapatkah meningkatkan perhatian dan minat mereka dalam belajar, serta mampukah meningkatkan prestasi pembelajarannya.
Berdasarkan uraian di atas dirumuskan judul penelitian :“Penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Menyimak Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo“.

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ memiliki kelayakan sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?
b. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi belajar siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?
c. Apakah penggunaan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo?

1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan rumusan masalah penelitian di atas, tujuan penelitian ini adalah :
a. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk menilai kelayakannya sebagai media pembelajaran bagi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
b. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
c. Untuk menerapkan Media Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dalam usaha untuk dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

1.4. Signifikansi Penelitian
Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat :
a. Bagi guru
(1) Untuk dapat mengembangkan profesionalisme guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang efektif khususnya dalam pokok bahasan menyimak berita televisi
(2) Sebagai latihan praktik langsung melalukan penelitian tindakan kelas.
(3) Sebagai sarana untuk menghasilkan karya tulis ilmiah.
b. Bagi Siswa
(1) Untuk meningkatkan perhatian, aktivitas, dan prestasi pembelajaran
(2) Agar pembelajaran menarik, menyenangkan, dan mudah dipahami
c. Bagi Pendidikan dan Pembelajaran
Untuk dapat menyempurnakan strategi pembelajaran sehingga semakin efektif penerapannya.

1.5 Hipotesis Tindakan
Berdasarkan semua uraian di atas dirumuskan hipotesis tindakan sebagai berikut :
1. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.
2. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
3. Melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.


BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1 Media Pembelajaran
Belajar adalah suatu proses yang kompleks pada semua orang dan terjadi seumur hidup yaitu sejak masih bayi hingga mati. Tanda-tanda terjadinya pembelajaran bagi seseorang adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari tidak tahu menjadi lebih tahu, dan dari tidak bisa menjadi bisa baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Sejalan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan masyarakat masyarakat serta budaya berkembang pula tugas dan peranan guru sejalan dengan jumlah anak yang memerlukan pendidikan. Mau tidak mau harus diakui guru bukanlah satu-satunya sumber belajar melainkan hanya salah satunya. Siswa, petugas perpustakaan, kepala sekolah, tutor, tokoh masyarakat, atau orang-orang yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu di masyarakat juga dapat dijadikan sumber belajar.
Menurut Arief S. Sadiman (2006) sumber belajar dapat digolongkan dalam beberapa jenis, yaitu :
a. jenis orang (people)
b. pesan atau informasi (message),
c. jenis bahan (materials), ke dalam jenis ini sering disebut perangkat lunas (software) yang di dalamnya terkandung pesan-pesan yang perlu disajikan
dengan alat bantu atau tanpa alat bantu, misalnya : modul, majalah, OHP,
compact disk (CD) program atau data.
d. Alat (device) atau hardware yang menyajikan pesan, misalnya :projector film, video, TV, Komputer, dan lain-lain.
e. Teknik adalah prosedur rutin atau acuan untuk menggunakan alat, bahan, atau orang dan lingkungan untuk menyajikan pesan, misalnya teknik demonstrasi, kuliah, ceramah, tanya-jawab, dan sejenisnya.
f. Lingkungan (setting), yaitu tempat yang memungkinkan siswa belajar. Misalnya : gedung sekolah, perpustakaan, laboratorium, museum, taman, kebun binatang, rumah sakit, pabrik, dan sejenisnya.
Sementara itu media teknologi mutakhir, terdiri dari :
a. Media berbasis telekomunikasi, misalnya : teleconfrence, kuliah jarak jauh, dsb.
b. Media berbasis mikroprosesor, misalnya : game komputer, hypermedia, CD / DVD, Computer Assisted Instructional, hypertxet, dsb.
Adapun menurut Gagne, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa belajar. Sementara itu Briggs menyatakan bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids) Alat bantu yang dipakai adalat alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek, dan alat-alat lain yang tujuannya dapat memberikan pengalaman konket, meningkatkan motivasi belajar, mempertinggi daya serap, dan retensi belajar siswa.
Dalam proses pembelajaran, keguaan media pembelajaran adalah :
1. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka)
2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misalnya :
a. objek yang terlalu besar – bisa digantikan dengan realitas, gambar, film, atau model;
b. objek yang kecil – dibantu dengan proyektor mikro, film atau gambar;
c. gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat, dapat dibantu dengan timelapse atau highspeed photography.
d. Kejadian atau peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film, video, foto, maupun secara verbal;
e. Objek-objek yang terlalu kompleks (misalnya mesin) dapat disajikan dalam model, diagram, dan lain-lain;
f. Konsep yang terlalu luas (gunung berapi, gempa bumi, iklim, dan lain-lain) dapat divisualisasikan dalam bentuk film, gambar, dan sebagainya.
3. Penggunaan media pendidikan secara tepat dan bervariasi dapat mengatasi sikap pasif anak didik. Dalam hal ini media pembelajaran berguna untuk :
a. menimbulkan kegairahan belajar;
b. memungkinkan interaksi lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dengan kenyataan;
c. memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
4. Sifat unik tiap siswa, lingkungan dan pengalaman yang berbeda, kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru akan kesulitan bila harus diatasi sendiri. Lebih sulit lagi bila latar belakang lingkungan guru dan siswa juga berbeda. Masalah ini dapat diatasi dengan media pendidikan, yaitu kemampuannya dalam :
a. memberikan perangsang yang sama;
b. mempersamakan pengalaman;
c. menimbulkan persepsi yang sama.

2.2 Media Presentasi Pembelajaran
Perkembangan teknologi komputer dan informasi (ICT) juga semakin mengembangkan bentuk dan variasi media pembelajaran. Menurut Thomson (Elida dan Nugroho, 2003) komputer yang digunakan dalam pembelajaran dapat memberikan manfaat, yakni saat digunakan komputer meningkatkan motivasi pembelajaran. Para siswa akan menikmati kerja komputer ini dan komputer memberikan tantangan di samping komputer menampilkan perpaduan antarteks, gambar, animasi gerak, dan suara secara bersamaan maupun bergantian.
Sementara ini Bower dan Hilgard berpendapat bahwa komputer bermanfaat besar dibandingkan dengan teknologi pendidikan lainnya karena mampu memberikan presentasi materi yang sangat fleksibel bagi pembelajar dan dapat mengikuti kemajuan sejumlah pembelajar dalam waktu yang sama.
Selanjutnya, menurut Woolfolk ada 9 keuntungan menggunakan komputer dalam pembelajaran, yaitu :
a. siswa dapat menyesuaikan dengan kecepatan belajarnya,
b. dapat melatih dengan sabar,
c. dapat dipakai untuk belajar sendiri,
d. dapat disajikan berbagai macam penginderaan,
e. dapat melakukan simulasi,
f. dapat dikembangkan pemecahan masalah,
g. dapat memberikan pujian untuk memperkuat perilaku,
h. dapat membantu manajemen kelas dan sekolah
Menurut Luther (Sutopo, 2003:32) ada 6 tahap dalam pengembangan media pembelajaran berbasis komputer, yaitu:
a. Tahap pertama konsep (concept), yaitu mengidentifikasikan tujuan, kebutuhan belajar, atau hal-hal lain yang perlu diungkapkan.
b. Tahap kedua analisis karakteristik siswa, yaitu disesuaikan dengan minat, bakat, dan kemampuan siswa.
c. Tahap ketiga merencanakan dan menyusun software. Dalam hal ini ada 3 ketrampilan yang harus dimiliki pengembang sofware yaitu menguasai bidang studi materi yang akan dibahas, menguasai prosedur pengembangan media, dan menguasai program komputer.
d. Tahap keempat desain (design), yaitu yaitu tahap merancang produk secara rinci agar memudahkan tahap-tahap pembuatan produk selanjutnya.
e. Tahap kelima pengumpulan bahan (material collecting), yaitu mengoleksi bahan-bahan pendukung untuk memperkaya isi produk media tersebut,
f. Tahap keenam pembuatan (assembly), yaitu menyusun naskah materi pada setiap frame sehingga menjadi sebuah produk media yang sudah jadi.
g. Tahap ketujuh uji coba (testing), yaitu melakukan uji coba produk yang akan digunakan secara luas karena itu perlu validasi kelayakannya. Ada dua kriteria dalam ujicoba produk media pembelajaran, yaitu :
(1) kriteria pembelajaran, yang mencakup apakah sesuai dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, sesuai dengan materinya, dan sebagainya. Jika tidak perlu dilakukan revisi.
(2) Kriteria presentasi, yaitu apakah validasi terkait dengan tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi / komunikabilitas.
h. Tahap distribusi (distribution), yaitu tahap menyebarluaskan produk pembelajaran dan menjelaskan tujuan produk media pembelajaran tersebut.

2.3 Motivasi Belajar
Menurut Oemar Hamalik (2001, 27-28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungannya. Dalam kegiatan belajar mengajar, motivasi dapat dikatakan sebagai daya penggerak di dalam diri seorang siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar dan menjamin kelangsungan kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
Macam-macam motivasi
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah dorongan dalam diri seseorang yang berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu (Sardiman, 1988). Dilihat dari segi tujuan kegiatan belajar, motivasi intrinsik adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung dalam kegiatan belajar itu sendiri.
b. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan yang aktif dan berfungsi karena adanya rangsangan dari luar. Motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar tetap penting sebab kemungkinan besar keadaan siswa itu dinamis dan juga mungkin komponen lain dalam proses belajar mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik.
Prayitno (1989) menyatakan bahwa betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau materi yang akan diajarkan dan lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajar, maka belajar tidak akan berlangsung secara optimal. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Motivasi sangat berhubungan erat dengan bagaimana seseorang melakukan kegiatan atau pekerjaan. Dengan demikian, makin banyak dan tepat motivasi belajar yang didapat siswa, maka aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa akan semakin tinggi sehingga pembelajaran siswa menjadi semakin berhasil.
Dengan adanya motivasi yang baik dalam belajar, maka akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan didasari adanya motivasi tinggi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan prestasi yang baik.

2.4 Pembelajaran Menyimak
Secara garus besar ketrampilan berbahasa manusia dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu : menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Berdasarkan penelitian Donald E. Bird aktivitas hidup manusia didominasi aktivitas menyimak (42%), sementara aktivitas berbicara (25%), aktivitas membaca (15%), aktivitas (18%). Realitas tersebut hampir sama keadaanya dengan di Indonesia (Tarigan, 1990:48). Karena itulah, kurikulum 2004 dan 2006 menitikberatkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia pada empat ketrampilan berbahasa tersebut.
Menurut Henry Guntur Tarigan, ada beberapa teknik pembelajaran menyimak, yaitu : (a) dengar-ulang ucap, (b) dengar tulis (dikte), (c) dengar kerjakan, (d) dengar terka, (e) memperluas kalimat, (f) menemukan benda, (g) seseorang bilang, (h) bisik berantai, (i) menyelesaikan cerita, (j) identifikasi kata kunci, (k) identifikasi kalimat topik, (l) menyingkat / merangkum, (m) parafrase, dan (n) menjawab pertanyaan.
Dalam menyimak, ada empat ketrampilan khusus yang dituntut, yaitu :
a. penyimak harus melibatkan diri secara total.
b. penyimak harus menguasai seni mencatat dengan tepat
c. penyimak harus mencari dan menganalisis sarana penunjang
d. penyimak harus mencari pola organisasi dan struktur keseluruhan (Tarigan, 1994 : 87-89).


BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pelaksanaan penelitian ini mengikuti suatu daur (siklus) yang di dalamnya terdapat kegiatan merencanakan tindakan, melaksanakan tindakan, melakukan pengamatan, dan melaksanakan refleksi pada seluruh tindakan sebelumnya.
Pendekatan yang ditempuh dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yang diterapakan dalam metode PTK. Penelitian ini dilakukan sendiri oleh peneliti. Dalam pelaksanaannya peneliti bertugas mengobservasi, mencatat, dan merekam segala aktivitas dan siswa dalam proses pembelajaran.

3.2. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini di MAN Sidoarjo dengan alamat Jl. Jenggolo (Belakang Stadion) No. 2 Sidoarjo. Waktu penelitian telah dilakukan sejak 14 – 26 Mei 2007. Pengambilan data dilakukan selama 2 siklus pembelajaran, setiap siklus terdiri atas sekali tatap muka. Untuk validasi instrumen penelitian diperlukan sekali tatap muka pada kelas X-1.

3.3. Subjek Penelitian dan Pembatasan Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa MAN Sidoarjo kelas X. Jumlah kelas X ada 10 kelas. Setiap kelas terdiri atas 45-47 siswa. Komposisi kecerdasan siswa tiap kelas relatif sama, karena belum dibedakan berdasarkan prestasi mereka. Karena itu peneliti mengambilnya secara acak dari kelas X, yaitu hanya kelas X-2, dan X-4.

3.4. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus memiliki 4 tahap, yaitu : (1). Perencanaan tindakan (planning); (2). Pelaksanaan Tindakan (action); (3). Observasi (observation); dan (4). Refleksi (reflection).

3.5. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Lembar Pengamatan untuk Siswa dan Guru
Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati siswa dalam proses pembelajaran hingga evaluasi. Aspek-aspek yang dinilai adalah aktivitas keterlibatan siswa hingga evaluasi.
2. Tes Tanggapan Siswa Terhadap Media
Tes tanggapan siswa terhadap media pembelajaran ini digunakan untuk meneliti seberapa tinggi kelayakan MPP “SM“ sebagai media pembelajaran. Dalam hal ini digunakan skala Likert.
3. Tes Motivasi Siswa
Tes motivasi siswa ini digunakan untuk meneliti siswa terkait dengan motivasi dan perhatian siswa terhapap proses pembelajaran. Dalam hal ini pun digunakan skala Likert.
4. Tes Kemampuan Menyimak
Untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyimak, siswa diberikan evaluasi terhadap kemampuan mereka dalam menulis ide-ide pokok dari wacana berita televisi yang telah disimak.

3.6. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan meliputi kegiatan klasifikasi data, penyajian data, dan penilaian keberhasilan tindakan. Kegiatan klasifikasi ini meliputi memilah-milah data yang telah dikelompokkan sesuai dengan jenis datanya.
Data yang diperoleh dari pengamatan dan angket dilakukan analisis deskriptif melalui : 1) reduksi data, 2) pemaparan data, dan 3) penyimpulan. Reduksi data dilakukan dengan menyederhanakan dan konseptualisasi melalui seleksi, pemfokusan, dan abstraksi data mentah sehingga menjadi informasi yang bermakna. Paparan data dilakukan dengan penyajian data dalam bentuk paparan naratif maupun statistik. Adapun penyimpulan adalah proses mengambil intisari dalam bentuk pernyataan kalimat.
1. Analisis Kelayakan Media
Evaluasi kelayakan media perlu dilakukan terhadap MPP “SM”. Hal ini karena media pembelajaran tersebut baru dibuat peneliti, karena itu perlu diujicobakan sekaligus diuji kelayakannya. Kriteria kelayakan MPP “SM” dinilai pada aspek : kesesuaiannya dengan kurikulum, tujuan pembelajaran, dengan materinya, tampilannya di layar, kelancaran navigasi, kemudahan penggunaan, dan interaksi komunikabilitas.
Untuk mengetahui skor kelayakan media ini dilakukan dengan cara
a. mengangkakan (kuantifikasi) tanggapan siswa dengan cara :
• pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1

b. menghitung tingkat kelayakan media pembelajaran
Tingkat kelayakan media pembelajaran dihitung dengan rumus berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor kelayakan / Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat kelayakan media ditentukan sebagai berikut :

Tingkat Kelayakan Media Rata-rata | Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5

2. Analisis Aspek Motivasi Siswa
Motivasi siswa diidentifikasikan pada saat berlangsungnya pembelajaran yang terdiri atas besarnya motivasi khususnya perhatian mereka dalam memperhatikan pembelajaran tanpa melalaikannya. Hal ini dapat dilihat dari tes tentang motivasi mereka.
Untuk mengetahui skor motivasi dan tingkat motivasi siswa dilakukan dengan cara:
a. mengangkakan (kuantifikasi) motivasi siswa dengan cara :
 pilihan jawaban a (sangat setuju) dinilai skor 5
• pilihan jawaban b (setuju) dinilai skor 4
• pilihan jawaban c (tidak tahu / netral) dinilai skor 3
• pilihan jawaban d (tidak setuju) dinilai angka 2
• pilihan jawaban e (sangat tidak setuju) dinilai angka 1
b. menghitung tingkat motivasi siswa
Tingkat motivasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Rata-rata skor = Jumlah skor motivasi siswa/ Jumlah siswa
Adapun kriteria tingkat motivasi siswa ditentukan sebagai berikut :

Tingkat Motivasi Belajar Siswa Rata-rata / Skor
Sangat Tinggi 21 – 25
Tinggi 16 – 20
Sedang 11 – 15
Rendah 6 – 10
Sangat Rendah 0 – 5

3. Analisis Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Hasil kemampuan menyimak siswa diidentifikasikan pada saat akhir proses pembelajaran yaitu saat evaluasi pembelajaran. Dalam hal ini dilakukan tes performansi, yaitu praktik menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi. Adapun unsur-unsur yang dinilai adalah : (a) sistematika ide pokok, (b) kelengkapan ide pokok, (c) kerapian penulisan, (d) tidak ada ide lain yang menyimpang, dan (5) banyaknya karangan.
Skor maksimal per siswa adalah 100. Adapun penetuan skornya digunakan kriteria sebagai berikut.

SKOR | Taraf Kemampuan Ketentuan
81 – 100 Sangat Baik 5 unsur terpenuhi
61 – 80 Baik 4 unsur terpenuhi
41 – 60 Cukup 3 unsur terpenuhi
21 – 40 Kurang Baik 2 unsur terpenuhi
0 – 20 Buruk 1 unsur terpenuhi

Hasil akhirnya akan dianalisis dan diinterpretasikan dengan membandingkan skor maupun perlakukan terhadap siklus 1 dan siklus 2 beserta latar belakang penyebabnya.

BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA
4.1 Penyajian Data
Secara operasional penelitian telah dilaksanakan sebagai berikut:
• Observasi Awal ( 21 Mei 2007)
Observasi awal dilakukan peneliti pada kelas X-1, jam 1-2 . Peneliti melakukannya tanpa menggunakan media presentasi pembelajaran. Hal ini cukup dilakukan di dalam kelas. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah :
a. bertanya jawab bagaimanakah langkah-langkah yang dilakukan oleh guru bahasa Indonesianya pada saat pembelajaran dengan wacana berita televisi
b. memberikan apersepsi tentang wacana berita televisi seputar bencana Lapindo Brantas, dan
c. menugasi siswa menuliskan ide-ide pokok berita seputar bencana Lapindo Brantas dengan batasan topik :
• dampak bencana Lapindo Brantas,
• bagaimana kehidupan pengungsi, dan
• upaya penanggulangannya, serta
• dialog-dialog yang pernah dilihatnya di televisi.
d. mengumpulkan dan menilai hasil karangan siswa.
• Refleksi Awal
Hasil yang diperoleh dari observasi awal dan evaluasi terhadap objek kelas X-1 sebagai berikut:
1. Menurut para siswa, karena tidak ada medianya guru sering menghindar saat membahas materi wacana yang berasal dari berita televisi. Sementara itu menurut guru yang bersangkutan, pembelajaran dilakukan dengan menugasi siswa menyimak wacana berita televisi dari rumah masing-masing, menuliskannya, dan melaporkannya di kelas.
2. Pada saat ditugasi oleh peneliti untuk menuliskan ide-ide pokok wacana berita yang telah disimak dari televisi yang pernah didengar dan dilihatnya di rumah, terjadi kasus-kasus berikut :
a. beberapa siswa mengaku belum pernah melihat dari berita dari televisi,
b. beberapa siswa mengaku pernah melihat dari berita dari televisi namun kurang perduli
c. ada yang pernah melihat berita televisi tentang bencana Lapindo Brantas, namun telah lupa ide-ide pokoknya,
d. beberapa siswa masih memikir-mikir dulu saat mau menulis. Kelihatan mereka bingung terhadap topik yang akan ditulisnya. Setelah beberapa menit kemudian baru mereka menuliskannya.
3. Hasil tulisan siswa menunjukkan :
a. topik yang dibahas melebar karena referensi yang berbeda
b. karangan siswa tidak sistematis ide-ide pokok yang diungkapkannya berbeda antara setiap siswa
c. banyak di antaranya menulis bukan dari menyimak berita televisi terbukti tidak mampu menyebutkan sumber televisi penyampai berita tersebut, melainkan dari pengalamannya dari rata-rata para siswa tinggal relatif tidak jauh dari lokasi bencana
d. topik yang dibahas terlalu banyak (4 topik) sehingga waktu tidak cukup. Banyak di antara siswa tidak mampu menyelesaikan topik yang keempat.

• Rencana Tindakan 1
1. Membuat media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, dan mengemasnya dalam compact disk (CD)
2. Agar waktu yang disediakan cukup yaitu hanya 2 x 45 menit, maka diatur waktunya sebagai berikut :
a. pengantar : 5 menit
b. penjelasan awal : 5 menit
c. presentasi media pembelajaran : 45 menit
d. siswa menuliskan ide-ide pokok berita : 30
e penutup : 5 menit
3. Karena menggunakan media presentasi pembelajaran maka diselenggarakan di ruang multimedia (moving class).
4. Membuat lembar observasi untuk siswa dan guru
5. Membuat instrumen penelitian berupa angket untuk mengetahui tingkat motivasi siswa dan kelayakan MPP “SM”

• Pelaksanaan Tindakan 1 (Siklus 1)
Dalam siklus 1, tindakan yang dilakukan penelitian adalah :
1. Melakukan penelitian pada kelas X-4 (kebetulan saat itu jam 5-6 pengajarnya tidak ada / kosong)
2. Para siswa diajak menuju ruang multimedia, berikut disuruh membawa alat tulis.
3. Peneliti memberikan pengantar dan penjelasan materi selama 10 menit.
4. Peneliti memutar dan menayangkan MPP “SM” pada layar selama 45 menit secara terus-menerus.
5. Setelah selesai penayangan MPP “SM” tersebut, peneliti menugasi siswa selama 30 menit menuliskan ide-ide pokok dari wacana rekaman berita televisi dengan urutan topik : dampak bencana, kehidupan pengungsi, dan upaya penanggulangannya.
6. Peneliti mengumpulkan hasil tulisan siswa dan menutup pertemuan tersebut.

• Observasi 1
1. Siswa antusias sekali saat menyimak tayangan media presentasi pembelajaran. Beberapa di antara siswi mengaku sedih bahkan ada yang menitikkan air mata, khususnya ketika tayangan intro disampaikan.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan. Peneliti membiarkan dan tidak melarangnya.
3. Pada saat ditugasi menulis hasil simakannya, beberapa siswa menunjukkan kebingungannya karena harus mengingat-ingat apa yang telah disimak sebelumnya.
4. Peneliti menemukan beberapa yang janggal dalam MPP “SM”, yaitu :
a. Ada space kosong di tengah, perlu diberikan gambaran background layer
b. Background mestinya sama, setelah tayangan video berita dan menuju tombol skip.
c. Akan lebih indah bila huruf judul tertentu diberikan blow effect.
d. Tidak ada file autorun

• Refleksi 1
1. Siswa terlihat antusias dan bahkan ada yang terbawa perasaannya saat melihat tayangan MPP “SM” karena sesuai dengan konteks siswa dan menimbulkan kesan mendalam pada pemahaman dan perasaan mereka.
2. Pada saat menyimak, ada beberapa siswa yang membuat catatan kecil menunjukkan siswa masih berusaha memerlukan bantuan ingatan saat akan menuliskannya nanti.
3. Beberapa kejanggalan dalam media perlu disempurnakan.

• Rencana Tindakan 2
1. Diperlukan tayangan intro relatif lebih lama untuk membawa suasana hati siswa kondusif terhadap situasi bencana yang memang menyedihkan.
2. Agar siswa tidak mengalami kesulitan mengingat apa yang telah disimaknya, peneliti akan menayangkannya secara bertahap sebagai berikut:
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
3. Siswa akan disarankan membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat siswa.

• Pelaksanaan Tindakan 2 (Siklus 2) (Kamis, 24 Mei 2007)
Dalam melakukan penelitian pada siklus 2 ini, peneliti melakukan hal-hal sebagai berikut.
1. Penelitian dilakukan pada kelas X-2 pada hari Kamis, 24 Mei 2007 Jam ke-5-6 dengan minta ijin guru yang bersangkutan, dan para siswa diajak ke ruang multimedia.
2. Peneliti memberikan pengatar materi.
3. Peneliti menayangkan media presentasi pembelajaran sesuai dengan tahap-tahap yang direncanakan, yaitu :
a. Tahap 1 :
- penyampaian topik dampak bencana selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
b. Tahap 2 :
- penyampaian topik kehidupan pengungsi selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
c. Tahap 3 :
- penyampaian topik upaya penanggulangan selama 15 menit
- dilanjutkan tugas menulis hasil simakan selama 10 menit
4. Peneliti mempersilakan para siswa membuat catatan kecil sebagai alat bantu mengingat.
5. Peneliti mengumpulkan hasil pekerjaan siswa, dan menutup pertemuan tersebut.

• Observasi 2
1. Siswa kelas X-2 juga sangat antusias dalam menyimak tayangan media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”. Sebagaimana kelas X-4, para siswa kelas ini mengaku sedih sekali khususnya tayangan intro.
2. Pada saat menyimak, siswa membuat catatan kecil terhadap materi yang ditayangkan sebagaimana peneliti telah perintahkan.
3. Pada saat menuliskan ide-ide pokok rekaman berita, para siswa langsung menuliskannya tanpa berpikir panjang, mengacu catatan kecil yang dibuatnya.
4. Waktu pelaksanaan hingga akhir molor 10 menit, menunggu seluruh tulisan siswa selesai.
5. Peneliti masih menemukan beberapa yang janggal dalam media presentasi pembelajaran “Sidoarjo Menangis”, yaitu :
a. ada beberapa file yang tidak gayut dan sebaiknya dihapus, yaitu : file master, file bank, dan file test.
b. File flash player perlu dimasukkan cd

• Refleksi 2 (Akhir)
1. Secara umum siswa tertarik dan antusias dalam menyimak MPP “SM”. Bahkan intro-nya mampu membawa penyimaknya dalam suasana sedih, khususnya para siswa wanita.
2. Penyampaian materi secara bertahap dibantu siswa membuat cacatan kecil sangat membantu siswa dalam menyimak ide-ide pokok wacana berita televisi kemudian langsung menuliskannya.
3. Secara umum, siswa melihat desain media pembelajaran sudah sangat bagus dan mereka menyatakan layak sebagai media pembelajaran, meskipun menurut amatan penulis masih perlu disempurnakan.

4.2 Analisis Data
1. Data Aktivitas Guru dan Siswa
Data aktivitas guru diperoleh melalui observasi partisipan oleh peneliti sendiri sesuai instrumen 01. Adapun data aktivitas siswa diperoleh melalui observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti sesuai instrumen 02.
Adapun data hasil observasi terhadap aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sebagai berikut.

Tabel 4.1
Data Aktivitas Guru dalam Proses Pembelajaran


Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 Frekuensi / % Frekuensi / %
a. Membuka pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
b. Memberikan apersepsi 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
c. Memberikan petunjuk 1 x (1,54%) 1x (1,56%)
d. Memutar MPP “SM” 10 x (18,51%) 10x (15,62%)
e. Pause MPP “SM” 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
f. Menugasi siswa menyimak 10 x (18,51%) 10x (16,62%)
g. Menugasi siswa membuat catatan - 10x (16,62%)
h. Menugasi siswa menulis 6 x (11,11%) 6x (9,37)%)
i. Mengamati siswa 18 x (33,33%) 18x (28,12%)
j. Menutup pelajaran 1 x (1,54%) 1x (1,56%)

Tabel 4.2
Data Aktivitas Siswa dalam Proses Pembelajaran

Aktivitas Siklus 1 Siklus 2 % siswa % siswa
a. Memperhatikan penjelasan guru 45 (100%) 42 (100%)
b. Menyimak MPP “SM” 45 (100%) 42 (100%)
c. Membaca buku 0 0
d. Membuat catatan sendiri terkaitmateri menyimak 9 (20%) 40 (88%)
e. d. Menulis sesuai perintah guru 45 (100%) 42 (100%)
f. Bertanya jawab relevan sesuai dengan materi pelajaran 0 0
g. Menyampaikan ide / pendapat 0 0
h. Aktivitas tidak relevan dengan pembelajaran 2 (4%) pada 5 menit pertama 0

Data tabel 4.1 dan 4.2 di atas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang mencolok yang telah dilaksanakan oleh guru dan siswa dalam pembelajaran siklus 1 dan siklus 2. Secara umum tindakan yang dilakukan oleh guru tidak ada hambatan. Demikian pula semua siswa (100%) terlibat sangat aktif dalam pembelajaran menyimak MPP “SM”.
Tidak ada aktivitas siswa yang tidak relevan dengan pembelajaran, misalnya bolos keluar, tidur, menggambar, menulis-nulis atau membaca materi pelajaran lainnya, mengobrol sendiri, dan sejenisnya. Hanya ada 2 siswa (4%) pada siklus 1 yaitu kelas X-4 yang terpaksa harus keluar kelas sebentar pada 5 menit pertama pembelajaran karena menuju kamar kecil.
Adapun perbedaannya, pada siklus 1 ada 9 siswa (20%) yang aktif membuat catatan kecil saat menyimak. Padahal guru tidak menganjurkannya apalagi memerintahnya. Guru pun tidak melarang aktivitas ini.
Namun melihat efektifitasnya, maka pada siklus 2 guru mengajurkan siswa untuk membuat catatan kecil untuk membantu mengingat saat menyimak yang kemudian menuliskan ide-ide pokok dalam rekaman wacana berita televisi.
Akhirnya pada siklus 2 sejumlah 40 siswa (95,23%) membuat catatan kecil saat menyimak.

2. Data Hasil Tanggapan Kelayakan Media Pembelajaran
Penelitian ini tidak bisa dilepaskan dari tes kelayakan media pembelajaran. Hal ini karena penelitian ini menggunakan media pembelajaran buatan peneliti sendiri yang belum pernah diujicobakan. Perlu diketahui kelayakan MPP “SM” ini. Dalam hal ini digunakan tes tanggapan yang menggunakan instrumen 03.
Adapun data hasil tes tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” sebagai media pembelajaran sebagai berikut.

Tabel 4.3
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 1 (Kelas X-4)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 19 26 M. Rachmanto 19
2 Adam Lukman F 21 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 19 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 20 29 M. Agung S 18
5 Aulia Alfi Ismi I 19 30 M. Azam Zur’ain 21
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 16
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 19
8 Desi Dwi A 19 33 Nur Afifah 17
9 Dimas Dwi A 20 34 Nur Mayasari 17
10 Eka Retno O 20 35 Olvy Trismayuni 17
11 Fajar Adi P 16 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 21 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 20 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 17 39 Risca Faiqotin 19
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 20
16 Istikhomah 14 41 Rusvita Efendi 19
17 Juwita Tri Septasari 20 42 Sherly Dwi KA 19
18 Khoirun Nisak 16 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 16 44 Siti Rosyidah 17
20 Lailatul M 17 45 45. Winda S. 18
21 Lailis Savitri 16 46 Wulan Indah C 22
22 Larastika DW 21 47 Yudhi Aprianto 19
23 Luluk Nuraini M 19 Total 824
24 M. Arifuddin 18 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 19 Rata-rata 18,31


Tabel 4.4
Skor Hasil Tes Kelayakan MPP “SM”
Sebagai Media Pembelajaran
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 19 26 M. Syaifuddin 18
2 Ainul Latifah 23 27 M. Zainuddin 20
3 Ainur Rochmah 19 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 18 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 18 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 24
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 21 34 Nikmahatus R 17
10 Bagus Suprayogi 25 35 Nuril Hidayati 20
11 Eka Sussiani 21 36 Nurul Umami 23
12 Fadilah 20 37 R. Awaluddin Yusuf 18
13 Fathir Fathoni 19 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 19
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 24
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 18
17 Imroatul M 19 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 23 43 Ulfa Oktaviana 16
19 Izzati Choirina 23 44 Wildah Faiz PH 20
20 Khusniatur R 21 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 20 46 Zumrotus S. 19
22 Lianatus S 19 Total 826
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 20 Rata-rata 19,64
25 M. Fanani SM 21

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa tanggapan siswa terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 18,31. Sementara itu dalam tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa tanggapan terhadap kelayakan MPP “SM” rata-rata skornya 19,64. Berdasarkan atas kriteria kelayakan media pembelajaran di atas MPP “SM” tergolong tinggi. Artinya, MPP “SM” memiliki kelayakan yang tinggi sebagai media pembelajaran bahasa Indonesia.

3. Data Hasil Tes Motivasi Belajar
Tes terhadap motivasi belajar siswa terdapat pada instrumen 04. Pada siklus 1 tes motivasi belajar diberikan kepada kelas X-4, dan pada siklus 2 tes motivasi diberikan kepada kelas X-2.
Adapun data hasil tanggapan kelayakan media pembelajaran sebagai berikut.

Tabel 4.5
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 1 (Kelas X-4)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 22 26 M. Rachmanto 23
2 Adam Lukman F 22 27 M. Hardianto S 20
3 Aisyah Nurdeka 20 28 M. Irvan R 20
4 Alfiyah Nur K 21 29 M. Agung S 20
5 Aulia Alfi Ismi I 24 30 M. Azam Zur’ain 23
6 Ayu Rohmah P 18 31 Nashrulloh Ibadi 23
7 Chusnul Ch 19 32 Nita Apri Rosalina 20
8 Desi Dwi A 20 33 Nur Afifah 19
9 Dimas Dwi A 21 34 Nur Mayasari 22
10 Eka Retno O 21 35 Olvy Trismayuni 21
11 Fajar Adi P 19 36 Rani Rahmawati 17
12 Fitri Muttafaqoh 22 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 21 38 Rina Puspita Ningsih 20
14 Hindriyani R 19 39 Risca Faiqotin 21
15 Ike Oktavianis 24 40 Rizky Amelia 21
16 Istikhomah 18 41 Rusvita Efendi 21
17 Juwita Tri Septasari 21 42 Sherly Dwi KA 20
18 Khoirun Nisak 20 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 18 44 Siti Rosyidah 20
20 Lailatul M 22 45 45. Winda S. 23
21 Lailis Savitri 19 46 Wulan Indah C 21
22 Larastika DW 24 47 Yudhi Aprianto 21
23 Luluk Nuraini M 21 Total 933
24 M. Arifuddin 19 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 22 Rata-rata 20,73


Tabel 4.6
Skor Hasil Tes Motivasi Belajar Siswa
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 20 26 M. Syaifuddin 19
2 Ainul Latifah 22 27 M. Zainuddin 18
3 Ainur Rochmah 20 28 Machmud 17
4 Ali As’ad 20 29 Mita Pratiwi 20
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 22
6 Aridatul Saidah 20 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 20 32 Muthoyibatu Aw 22
8 Ayu Novieanthi 20 33 Najwa Farah S 22
9 Ayu Rizka 23 34 Nikmahatus R 22
10 Bagus Suprayogi 22 35 Nuril Hidayati 22
11 Eka Sussiani 20 36 Nurul Umami 24
12 Fadilah 22 37 R. Awaluddin Yusuf 19
13 Fathir Fathoni 21 38 Raisa Hakim 19
14 Futischatis F 20 39 Risaatul Lailiyah 21
15 Ginarti SW 20 40 Sholihatun 23
16 Iis Sugiyati 23 41 Siti Aisyah 20
17 Imroatul M 22 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 22 43 Ulfa Oktaviana 21
19 Izzati Choirina 19 44 Wildah Faiz PH 21
20 Khusniatur R 20 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 21 46 Zumrotus S. 22
22 Lianatus S 19 Total 869
23 Lia Andriani 16 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 22 Rata-rata 20,69
25 M. Fanani SM 21

Tabel 4.5 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-4 rata-rata skornya 20,73. Sementara itu dalam tabel 4.6 di atas menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa kelas X-2 rata-rata skornya 20,69.
Jadi, berdasarkan atas kriteria motivasi belajar di atas, maka motivasi belajar tergolong tinggi. Artinya, siswa kelas X memiliki motivasi yang tinggi dalam pembelajaran menyimak yang menggunakan MPP “SM”.

4. Data Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Penelitian terhadap kemampuan menyimak siswa, dilakukan segera setelah menayangkan MPP “SM”. Pada siklus 1 dilakukan tes kemampuan menyimak pada kelas X-4 dan pada siklus 2 dilakukan pada kelas X-2.
Hasil kemampuan menyimak siswa dituliskan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.7
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Siklus 1 (Kelas X-4)


No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Achmad Nafi 66 26 M. Rachmanto 66
2 Adam Lukman F 86 27 M. Hardianto S 73
3 Aisyah Nurdeka 90 28 M. Irvan R 53
4 Alfiyah Nur K 73 29 M. Agung S 90
5 Aulia Alfi Ismi I 60 30 M. Azam Zur’ain 66
6 Ayu Rohmah P 73 31 Nashrulloh Ibadi 83
7 Chusnul Ch 73 32 Nita Apri Rosalina 86
8 Desi Dwi A 80 33 Nur Afifah 80
9 Dimas Dwi A 90 34 Nur Mayasari 73
10 Eka Retno O 70 35 Olvy Trismayuni 86
11 Fajar Adi P 73 36 Rani Rahmawati 66
12 Fitri Muttafaqoh 90 37 Ria Rilla R ===
13 Henik Nur A 66 38 Rina Puspita Ningsih 73
14 Hindriyani R 80 39 Risca Faiqotin 90
15 Ike Oktavianis 76 40 Rizky Amelia 96
16 Istikhomah 83 41 Rusvita Efendi 63
17 Juwita Tri Septasari 73 42 Sherly Dwi KA 90
18 Khoirun Nisak 73 43 Siti Mutrofin ===
19 Khusniatin N 66 44 Siti Rosyidah 80
20 Lailatul M 86 45 45. Winda S. 93
21 Lailis Savitri 76 46 Wulan Indah C 86
22 Larastika DW 93 47 Yudhi Aprianto 76
23 Luluk Nuraini M 76 Total 3431
24 M. Arifuddin 90 Jumlah Siswa 45
25 M. Nurul Burhani 70 Rata-rata 77,24

Tabel 4.8
Skor Hasil Tes Kemampuan Menyimak
Siklus 2 (Kelas X-2)

No. Nama Siswa Skor No. Nama Siswa Skor
1 Ach. Rifai Romly 86 26 M. Syaifuddin 83
2 Ainul Latifah 96 27 M. Zainuddin 90
3 Ainur Rochmah 93 28 Machmud 93
4 Ali As’ad 93 29 Mita Pratiwi 100
5 Amri Yahya === 30 Moh. Nasrudin 100
6 Aridatul Saidah 100 31 Mufidatus S. ===
7 Aulia Akbar 60 32 Muthoyibatu Aw 100
8 Ayu Novieanthi 100 33 Najwa Farah S 100
9 Ayu Rizka 100 34 Nikmahatus R 100
10 Bagus Suprayogi 100 35 Nuril Hidayati 93
11 Eka Sussiani 100 36 Nurul Umami 100
12 Fadilah 100 37 R. Awaluddin Yusuf 80
13 Fathir Fathoni 100 38 Raisa Hakim 100
14 Futischatis F 86 39 Risaatul Lailiyah 100
15 Ginarti SW 90 40 Sholihatun 100
16 Iis Sugiyati 100 41 Siti Aisyah 96
17 Imroatul M 100 42 Siti Latifah ===
18 Istifadatul M 100 43 Ulfa Oktaviana 100
19 Izzati Choirina 100 44 Wildah Faiz PH 100
20 Khusniatur R 100 45 Yona Nus D ===
21 Latifati A Ch 96 46 Zumrotus S. 93
22 Lianatus S 90 Total 3758
23 Lia Andriani 100 Jumlah Siswa 42
24 Lina Wayu Fitria 96 Rata-rata 89,47
25 M. Fanani SM 90

Tabel 4.7 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-4 pada siklus 1 rata-rata skornya 77,24. Sementara itu dalam tabel 4.8 di atas menunjukkan bahwa kemampuan menyimak siswa kelas X-2 pada siklus 2 rata-rata skornya 89,47.
Berdasarkan atas kriteria kemampuan menyimak di atas maka kemampuan menyimak siswa kelas X-4 tergolong baik, adapun kemampuan menyimak siswa kelas X-2 tergolong sangat baik.


Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa ada peningkatan nilai rata-rata kemampuan menyimak siswa, disamping peningkatan kelayakan MPP “SM”. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari perbedaan perlakuan yang semakin disempurnakan (pada silus 2) dari perlakuan sebelumnya (pada siklus 1). Hal ini dapat dilihat pada bagan berikut.

Aspek Siklus 1 Siklus 2 Keterangan
Aktivitas Guru - membuka pembelajaran
- memberikan penjelasan
Awal - membuka pembelajaran
- memberikan penjelasan
awal - aktivitas sama
- aktivitas sama


- menugasi menyimak
terus menerus (45
menit)
- menugasi menulis 3
topik sekaligus (30
menit)
- menugasi menyimak per
topik (15 menit)
kemudian menulis (10
menit)
- perbaikan cara

- tidak menghimbau siswa
membuat catatan kecil
- menghimbau siswa
membuat catatan kecil
- perbaikan cara


- melakukan observasi
- menutup pelajaran
- melakukan observasi
- menutup pelajaran
- aktivitas sama
- aktivitas sama

Aktivitas Siswa - menerima penjelasan
Awal - menerima penjelasan
awal - aktivitas sama
- menyimak terus menerus (45
menit)
- menulis 3 topik sekaligus (30
menit) hasil simakan
- sebagian kecil siswa (20%)
membuat catatan kecil - menyimak bertahap (15 menit
menyimak dan 10 menit
menuliskannya) hingga 3
tahap
- sebagian besar siswa (88%)
membuat catatan kecil
- perbaikan cara
- perbaikan cara


MPP “SM” - space kosong di tengah
- background mestinya sama
setelah skip
- huruf statis monoton
- belum diberi autorun - space kosong di tengah sudah
diperbaiki
- membuat background sama
setelah skip
- huruf di blow effect
- diberi autorun
- perbaikan desain
media

Kelayakan MPP “SM” Skor rata-rata
18,31 Skor rata-rata
19,64 - peningkatan skor
rata-rata 1,33

Motivasi Siswa Skor rata-rata
20,73 Skor rata-rata
20,69 - perbedaan skor
rata-rata 0,04

Kemampuan Menyimak Skor rata-rata
77,24 Skor rata-rata
89,47 - peningkatan
Skor rata-rata
12,23

4.3 Interpretasi
Berdasarkan rangkaian penelitian hingga analisis data dapat diketahui bahwa :
(1) MPP “SM” dinilai tinggi kelayakannya sebagai media pembelajaran.
MPP “SM” ini dinilai layak berdasarkan hal-hal berikut :
a. Materi MPP “SM” sudah sesuai dengan silabus Kurikulum 2006 (KTSP)
b. Desain gambar, warna, tulisan, maupun komposisi suara dan filmnya sudah
baik
c. MPP “SM” mudah digunakan atau dipakai dalam pembelajaran
d. Navigasi menu-menu dan tombol dalam MPP “SM” sudah jelas dan tidak
membingungkan
e. MPP “SM” sudah komunikatif artinya mudah dipahami para siswa.
Bertolak hal tersebut berarti hipotesis tindakan 1 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“, siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilainya layak sebagai media pembelajaran.
(2) Berdasarkan analisis terhadap motivasi belajar siswa menunjukkan bahwa siswa memiliki motivasi yang tinggi. Bahkan dalam observasi terhadap aktivitas pembelajaran semua siswa (100%) terlibat aktivitas aktif dalam pembelajaran. Hal ini menunjukkan hipotesis tindakan 2 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat memotivasi siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.
(3) Berdasarkan analisis terhadap kemampuan menyimak menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yaitu rata-rata skornya 77,24 (tingkatan baik) pada siklus 1 meningkat menjadi rata-rata skor 89,47 (tingkatan sangat baik). Terjadi peningkatan skor rata-rata 12,23. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya perbaikan dan peningkatan perlakuan dari siklus pembelajaran sebelumnya, melalui perbaikan MPP “SM” serta memberikan kesempatan kepada para siswa untuk membuat catatan kecil pada saat proses menyimak. Hal ini dapat membantu mengingat siswa terhadap materi yang disimaknya.
Berdasarkan hal itu maka hipotesis tindakan 3 dapat dibuktikan bahwa melalui penerapan pembelajaran yang menggunakan Media Presentasi Pembelajaran Bahasa Indonesia “Sidoarjo Menangis“ dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.


BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan
Dari seluruh rangkaian penelitian sebelumnya akhirnya dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut.
1. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo menilai kelayakan tinggi terhadap MPP “SM” sebagai media membelajaran bahasa Indonesia.
2. Siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo memiliki motivasi tinggi pada saat pembelajaran bahasa Indonesia dengan topik menyimak rekaman berita televisi dengan menggunakan MPP “SM” sebagai media membelajaran.
3. Penerapkan MPP “SM” dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan hasil belajar menyimak siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Sidoarjo.

5.2 Saran
Disamping mampu membentuk kompetensi siswa, pembelajaran memperhatikan hal-hal berikut:
1. Guru harus mengusahakan media pembelajaran yang mampu menarik perhatian dan minat siswa dalan belajar
2. Media pembelajaran disamping gayut dengan topik pembelajaran perlu pula dinilai kelayakannya
3. Pada era ICT (Information Computer & Technology) banyak media pembelajaran dapat dihasilkan dengan bantuan komputer. Karena itu para guru perlu belajar dan menguasai teknologi pembelajaran berbasis komputer ini.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.
Chandra. 2005. Menu Interaktif Flah MX 2004. Palembang : Maxiikom.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.
Fathoni, A.R. 1993. Pengembangan Komputer Pembelajaran (Unit II CIA). Surabaya University Press IKIP Surabaya.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara.
Kurniawan, Yahya. 2006. Belajar Sendiri Macromedia Flash 8. Jakarta : PT Elex Media Komputindo.
Madya, Suwarsih. 2006. Teori dan Praktik : Penelitian Tindakan. Bandung : Alfabeta.
Mudhoffir. 2001. Prinsip-prinsip Pengelolaan Pusat Sumber Belajar. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Mukminan. 2001. Desain Pembelajaran. Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Parera, Jos Daniel. 1997. Linguistik Edukasional. Jakarta : Erlangga.
Pramono, Andi. 2001. Presentasi Multimedia dengan Macromedia Flash 8. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta. Depdikbud.
Rachman, Saiful. dkk.. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya : SIC & Dinas P dan K Provindi Jawa Timur.
Sardiman, Arief S. dkk. 2006. Media Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Suyatno.2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya : SIC.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
---------------------. 1990. Teknik Pengajaran Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa.
---------------------. 1994. Menyimak : Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.
Uno, Hamzah B.. 2007. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta : Bumi Aksara
Wiriatmadja, Rochiati. 2007. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung : PT Remaja Roskakarya.

Contoh Karya Ilmiah

KAJIAN TEORI
KURIKULUM PEMBELAJARAN DAN PERENCANAAN PENGAJARAN
BAHASA INDONESIA

A. Pengertian Kurikulum
Kurikulum menurut Undang-Undang RI no.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bab I pasal 1 ayat 19 merupakan: “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Sukmadinata (Diana, 2009:15) mengemukakan: “Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan”.
Sedangkan Daeng Sudirwo (Diana, 2009:15) mengatakan bahwa: “Kurikulum adalah program pendidikan yang bertujuan melaksanakan tujuan pendidikan di Sekolah dan berlaku di Seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan daerah”. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kurikulum seharusnya alat untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
B. Implementasi Kurikulum
Secara sederhana implementasi dapat diartikan pelaksanaan atau penerapan. Majone dan Wildavsky (Nurdin dan Usman, 2002) mengatakan “Implementasi sebagai evaluasi”. Browne dan Wildavsky (Nurdin dan Usman, 2002:70) mengatakan “Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan”. Adapun Schubert (Nurin dan Usman, 2009:70) mengemukakan “Implementasi adalah sistem rekayasa”.
Dari pengertian-pengertian di atas memperlihatkan bahwa implementasi sebenarnya menunjukkan adanya aktivitas, adanya aksi, tindakan, atau mekanisme suatu sistem. Kata mekanisme mengandung arti bahwa implementasi merupakan suatu kegiatan yang terencana, sungguh-sungguh dan berdasarkan acuan tertentu.
Jika implementasi dikaitkan dengan kata kurikulum, maka akan memunculkan sebuah pengertian bahwa yang dimaksud implementasi kurikulum adalah suatu proses, suatu aktivitas, yang digunakan untuk mentransfer ide/ gagasan, program atau harapan-harapan yang dituangkan dalam bentuk kurikulum tertulis agar dilaksanakan sesuai dengan desain kurikulum tersebut.
Sehubungan dengan pengertian implementasi kurikulum, Nurdin dan Usman (2002) mengatakan bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat memberikan pengertian tentang tingkat pelaksanaan yang berbeda, yaitu:
  1. Implementasi dilakukan sebelum penyebaran kurikulum desain. Proses ini menyangkut akrivitas yang berkaitan dengan penjelasan tujuan program, mendeskripsikan sumber-sumber baru, dan merekomendasikan metode pengajaran yang digunakan.
  2. Fase penyempurnaan. Proses ini menekankan pada interaksi antara pengembang atau pihak sekolah dan guru (praktisi pendidikan). Pengembang melakukan pemeriksaan pada kurikulum yang direncanakan, sumber-sumber varu, dan memasukkan isi/ materi ke program yang sudah ada berdasarkan hasil uji coba dan pengalaman guru. Pengembang memfasilitasi upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas guru. Sedangkan guru menjadi pelaksana langsung di Lapangan menjabarkan kurikulum tersebut dalam silabus, RPP, dan pelaksanaan KBM.
  3. Proses implementasi berupa evaluasi perkembangan program-program yang sudah direncanakan dan diorganisasikan dalam bentuk kurikulum desain.
C. Pembelajaran Bahasa Indonesia
Pembelajaran berasal dari bahasa inggris yaitu “Instruction” yang artinya proses belajar mengajar yang menitikberatkan kepada bagaimana murid belajar dan berlangsung di dalam keluarga, sekolah, masyarakat (Diana, 2009:75).
Selanjutnya Diana Sulistiawati (2009:76) mengatakan “Pembelajaran pada dasarnya merupakan suatu proses komunikasi atau interaksi antara peserta didik/ siswa dengan tenaga pendidik/ guru dan lingkungan belajarnya, baik komunikasi secara langsung di dalam kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung dengan mengunakkan media”.
Menurut Degeng (1989) “Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa”. Adapun upaya-upaya yang dilakukan dapat berupa analisis tujuan dan karanteristik studi dan siswa, analisis sumber belajar, menetapkan strategi pengorganisasian, isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian pembelajaran, menetapkan strategi pengolahan pembelajaran, dan menetapkan prosedur pengukuran hasil pembelajaran.
Belajar bahasa pada hakikatnya nelajar komunikasi. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1995) mengatakan “Pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis”. Dalam hal ini relevan dengan kurikulum 2004 bahwa kompetensi pembelajar bahasa indonesia diarahkan ke dalam empat aspek, yaitu menyimak, mambaca, berbicara dan menulis.
Menurut Basiran (1999) “Tujuan pembelajaran bahasa adalah keterampilan komunikasi dalam berbagai konteks komunikasi, adapun kemampuan yang dikembangkan dikelompokkan pada kebahasaan, pemahaman, dan penggunaan”.
Dalam kurikulum 2004 untuk SMA dan MA disebutkan bahwa tujuan bahasa indonesia adalah: (1) Siswa menghargai dan membanggakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa negara, (2) Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk macam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial, (4) Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, dan (6) Siswa menghargai dan membanggakan Sastra Indonesia sebagai Khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
D. Perencanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. Perencanaan yang dibuat merupakan antisipasi dan perkiraan terhadap proses yang akan dilakukan dalam pembelajaran, sehingga tercipta  situasi yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Menurut Ahmad dan Ahmadi (1995:64), “Desain pembelajaran adalah suatu pemikiran atau persiapan untuk melaksanakan tugas mengajar/aktivitas pengajaran dengan menerapkan prinsip-prinsip pengajaran serta melalui langkah-langkah pengajaran, perencanaan itu sendiri, pelaksanaan, dan penilaian, dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.”
Menurut Akhlan dan Rahman (1997:15), perencanaan pengajaran meliputi:
a.  tujuan apa yang hendak dicapai;
b.  bahan pengajaran;
c.  proses belajar mengajar;dan
d. alat penilaian.
Perencanaan pengajaran  meliputi keempat unsur tersebut merupakan faktor penting dalam penentuan langkah awal dalam pelaksanaan perencanaan pembelajaran di kelas. Tujuan pembelajaran yang dibuat guru sebagai standar pencapaian kompetensi dalam proses belajar mengajar. Bahan pembelajaran digunakan sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar dan mendukung kegiatan belajar yang dilakukan guru dan siswa berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya oleh guru dan pada pelaksanaannya guru juga mempersiapkan alat pendukung yang digunakan untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dibuat.
Menurut Akhlan dan Rahman (1997:7), karakteristik perencanaan pengajaran yang baik hendaknya mengandung prinsip sebagai berikut.
a.    Mengembangkan hubungan interaksi yang baik di antara sesama manusia, dalam hal ini siswa dan guru serta personal terkait.
b.    Merupakan suatu wahana atau wadah untuk mengembangkan segala potensi yang ada dan dimiliki oleh anak didik.
c.    Memiliki sikap objektif rasio (tepat dan masuk akal), komprehensif dan sistematis (menyeluruh dan tersusun rapi).
d.    Mengendalikan kekuatan sendiri, bukan didasarkan atas kekuatan orang lain,
e.    Didukung oleh fakta dan data yang menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
f.    Fleksibel dan dinamis, artinya mudah disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan ke arah yang lebih baik dan maju.
Setiap pembelajaran didahului dengan pembuatan rencana pengajaran yang meliputi program tahunan, semester dan persiapan mengajar. Rencana pengajaran disusun berdasarkan silabus dan disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku, jadwal mata pelajaran yang berlangsung dan sarana yang tersedia. Program tahunan merupakan rencana pembelajaran selama satu tahun disusun berdasarkan kurikulum yang disesuaikan dengan kalender pendidikan yang berlaku.
Proses belajar mengajar adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang terorganisasi. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah sesuai dengan tujuan pendidikan. Pengawasan itu bertujuan untuk menentukan lingkungan belajar yang baik, lingkungan yang menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa nyaman dan keluasan serta mencapai tujuan yang diharapkan.
Perencanaan proses belajar mengajar merupakan faktor yang mendukung kondisi belajar di kelas yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar mengajar yang dilakukan oleh sekelompok siswa. Sehubungan dengan hal ini, maka perencanaan guru dalam implementasi proses belajar mengajar sebagai berikut.
a. Perencanaan intruksional.
b. Organisasi belajar.
c. Mengarahkan anak didik.
d. Supervisi dan pengawasan.
e. Penelitian assesment. (Akhlan dan Rahman, 2007:16)
Perencanaan Intruksional yaitu alat atau media yang digunakan untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan organisasi belajar pada proses belajar mengajar di kelas. Organisasi belajar itu sendiri merupakan wadah dan fasilitas atau lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan untuk menciptakan proses belajar mengajar di kelas.
Guru harus menentukan tujuan pembelajaran khusus, bahan kajian, pendekatan, metode, sumber belajar, dan alat penilaian dalam perencanaan pengajaran. Uraian lebih rinci mengenai setiap komponen perencanaan pengajaran dapat di lihat dalam pembahasan sebagai berikut.
a.  Perumusan Tujuan Pembelajaran Khusus Kompetensi
Perumusan tujuan pembelajaran khusus atau kompetensi adalah tujuan atas kompetensi yang diharapkan dapat dicapai siswa setelah berperan serta dalam setiap rencana pengajaran. Selain itu, tujuan pembelajaran khusus dikenal dengan istilah tujuan intruksional khusus. Tujuan pembelajaran ini dirumuskan berdasarkan tujuan kelas dan butir-butir pembelajaran yang diambil dalam unit atau tema.
b. Penentuan Bahan atau Materi Pembelajaran
Penentuan bahan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam perencanaan pembelajaran mengacu pada bahan kajian yang tertuang dalam kurikulun KTSP dan silabus pada bagian butir pembelajaran. Bahan kajian tersebut dijabarkan dan disesuaikan dengan tujuan peningkatan keterampilan  berbahasa. Guru dapat melakukan penjabaran penyesuaian bahan kajian sesuai dengan kebutuhan dalam lingkup tujuan yang ditetapkan dalam silabus bahasa Indonesia. Materi pengajaran adalah bahan yang harus dipelajarai dan dikuasai oleh siswa dalam proses pembelajaran yang terdiri dari kompetensi-kompetensi.
c. Penentuan Pendekatan
a) Pendekatan Komunikatif
Menurut Sentosa (dalam Mutia, 2008:33), pendekatan komunikatif adalah suatu pendekatan yang bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan pembelajaran bahasa, juga mengembangkan prosedur-prosedur bagi pembelajaran empat keterampilan berbahasa dan menghargai saling ketergantungan bahasa.
Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran, yaitu kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Siswa dibimbing untuk dapat menggunakan bahasa, bukan mengetahui tentang bahasa.
Ciri-ciri peserta didik yang disesuaikan dengan konsep pendekatan komunikasi yaitu: (1) selalu berkeinginan untuk menafsirkan tuturan secara tepat, (2) berkeinginan agar bahasa yang digunakan selalu berkomunikatif, (3) tidak merasamalu jika berbuat kesalahan dalam berkomunikasi, (4) selalu menyesuaikan bentuk dan makna dalam berkomunikasi, (5) frekuensi latihan berbahasa lebih tinggi, dan (6) selalu mementau ujaran sendiri dan ujaran mitra bicaranya untuk mengetahui apakah pola-pola bahasa yang diucapkan tersebut dapat diterima dan dipahami oleh masyarakat.
 b) Pendekatan Integratif (Whole Language)
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia memiliki empat aspek keterampilan. Setiap aspek tidak dapat berdiri sendiri karena keempat keterampilan (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diikuti keterampilan yang lain yang saling membutuhkan, contohnya keterampilan menyimak, selalu diikuti dengan keterampilan berbicara, karena sesuatu yang didengar atau disimak adalah suatu ujaran melalui kegiatan berbicara. Maka dari itu, pengajaran keterampilan berbahasa disajikan secara utuh dan bermakna dalam situasi nyata.
Menurut Prakorso dan Surasinah (dalam Mutia, 2008:36), “Integratif (Whole Language) adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yag terlibat dalam pembelajaran, dalam hal ini orang-orang yang dimaksud adalah siswa dan guru”. Pelaksanaan pembelajaran oleh guru bahasa Indonesia menggunakan empat aspek keterampilan tersebut yang saling berkait dalam penedekatan pembelajaran berbahasa dan bersastra.
Penentuan pendekatan pada  pelaksanaan proses belajar menggunakan pendekatan integratif, kontekstual, dan komunikatif, yang mengarahkan pembelajaran bahasa Indonesia pada tujuan pembelajaran yang mementingkan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Ketiga pendekatan pembelajaran tersebut dapat digunakan secara bersamaan, karena pada proses pembelajaran untuk menjadikan siswa terampil dalam berbahasa.
c) Pendekatan Kontekstual
Departemen Pendidikan Nasional (2002:1), Pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antar materi yang diajarkan dengan situasi nyata siswa. Guru memotivasi siswa  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinnya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.”
          Dalam pendekatan kontekstual ini menuntut siswa agar konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata. Peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar, dan merasa akan memperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya.
Tujuh komponen yang terdapat dalam pendekatan kontekstual. (Departemen Pendidikan Nasional, 2002:1)
(a) Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas dengan konteks yang terbatas. Siswa perlu dibiasakan untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
(b) Menemukan (Inquiry)
Inquiri merupakan bagan inti dari kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan buka hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil menemukan sendiri.
(c) Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan strategi utama dalam pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing , dan menilai kemampuan berpikir siswa.
(d) Masyarakat Belajar (Learning Community)
Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari ’ Sharing’ antar teman, juga antar kelompok belajar.
(e) Pemodelan (Modeling)
Pemodelan maksudnya, dalam pembelajaran keterampilan atau  pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru.
(f) Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu.
(g) Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assesmanf)
Assesmant adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar.
d. Penentuan Metode
Penentuan metode mengajar merupakan ciri khas muatan pelajaran  bahan kajian, persediaan sumber belajar, dan alat pembelajaran. Menurut Subana, dkk (2001:20), “Metode ialah rencana penyajian bahan yang menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu.” Jadi, metode merupakan cara melaksanakan pekerjaan yang digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar yang kondusif agar peserta didik mencapai kompetensi dasar yang disesuaikan degan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik setiap indikator atau kompetensi yang hendak dicapai.
 Metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Indonesia antara lain: metode ceramah. diskusi, brainstorming, stimulasi, demontrasi, dan discovery- inquiry. Sedangkan Menurut Suwarna (2002:79-83), metode yang sering digunakan untuk pengajaran bahasa Indonesia diantaranya metode ceramah, demontrasi, pemecahan masalah, diskusi eksperimen, kerja kelompok sosiodrama, dan penugasan. Penjelasannya sebagai berikut.
a)      Metode ceramah adalah cara penyajian materi pembelajaran yang dilakukan guru dengan peraturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap pembelajaran.
b)      Metode tanya jawab adalah cara penyajian materi pembelajaran dalam pertanyaan yang harus diajukan baik secara dua arah maupun tiga arah.
c)      Metode demontrasi adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan memperagakan atau menunjukan kepada siswa tentang suatu proses, situasi, atau benda yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan, yang sering disetai dengan penjelasan secara lisan.
d)    Metode karya wisata adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan mengajar bahan-bahan atau sumber belajar yang ada di luar kelas.
e)    Metode pemecahan masalah adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan ntuk dianalisis dalam usaha mencari jawaban dan penyelesaian.
f)     Metode diskusi adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan secara berkelompok untuk mempersentasekan hasil pembelajaran tersebut.
g)      Metode eksperimen adalah cara penyampaian materi pembelajaran dengan melakukan percobaan tersebut.
h)    Metode bekerja kelompok adalah cara penyampaian materi pembelajaran dengan jalan membagi kelas ke dalam kelompok-kelompok dengan tugas tertentu.
i)       Metode Sosiodrama adalah cara penyampaian materi pembelajaran dengan cara mendramatisasi suatu topik.
j)        Metode penugasan adalah cara penyajian materi pembelajaran dengan cara guru memberikan tugas tertentu agar pembelajaran melakukan kegiatan dan melaporkan hasilnya.
Menurut Subana, dkk (2001: 196), ”Teknik ialah berbagai cara atau alat yang digunakan guru dalam kelas untuk mencapai tujuan langsung dalam pelaksanaan pembelajaran.” Metode yang umum yang sering digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran  sebagai berikut.
a. Teknik  tanya-jawab adalah teknik pembelajaran untuk memberikan motivasi kepada siswa agar timbul keinginan dalam dirinya untuk bertanya selama mendengarkan pelajaran atau berusaha menjawab bila guru mengajukan pertanyaan.
b.   Teknik pemberian tugas merupakan teknik pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melaksanakan tugas berdasarkan petunjuk yang telah dipersiapkan guru sehingga siswa dapat mengalami kegiatan belajar secara nyata.
c.  Teknik latihan adalah suatu teknik mengajar yang mendorong siswa untuk melaksanakan kegiatan latihan agar memiliki ketangkasan atau keterampilan yang lebih tinggi dari apa yang dipelajari
d. Teknik Simulasi adalah memberikan kemungkinan kepada siswa untuk menguasai suatu keterampilan melalui latihan dalam situasi tiruan.
e. Penentuan Sumber Belajar
Penentuan sumber belajar ditentukan dalam lingkup bahan kajian, tema, dan subtema yang disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan guru maupun sekolah itu sendiri. Menurut Suwarno, (dalam Murni, 2007:26) mengemukakan;
” Bahan sumber belajar dapat berupa, buku pelajaran ynag diwajibkan, buku pelajaran yang pernah dipakai yang masih sesuai, buku pelengkap, buku bacaan, kamus ensiklopedia, majalah berbahasa, media cetak dan media elektronik radio, kaset, TV, vidio, lingkungan alam, sosial, budaya, dari narasumber, dan minat serta hasil karya pembelajaran”
f. Penentuan Alat atau Media Pembelajaran
Penentuan alat atau media pelajaran untuk setiap pembelajaran bahan kajian tertentu tidak dicantumkan dalam silabus bahasa Indonesia. Guru harus memperhatikan tujuan pembelajaran atau komponen bahan kajian tertentu dalam silabus, pendekatan, metode, dan sumber. Guru dapat menentukan alat pelajaran yang paling efektif sesuai dengan keadaan dan kebutuhan seperti: buku paket, OHP, gambar, sketsa, dan sebagainya. Menurut Santoso (dalam Subana dkk, 2001:287), media pendidikan ialah media yang penggunaannya diintegrasikan dengan tujuan dan isi pengajaran dan dimaksudkan untuk mempertinggi mutu mengajar dan belajar.
Empat faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan dan pengembangan media yaitu: (1) ketersediaan sumber (media), (2) adanya tenaga, dan fasilitas, (3) keluwesan, kepraktisan, dan kebutuhan untuk waktu lama, (4) efektifitas biaya dan waktu yang lama (dalam kusnadi, 2001:28) Dich & Carry (1978).
Secara umum media pembelajaran dapat dibagi menjadi berikut.
a) Media Audio yaitu media penyampaian berupa suara-suara yang dapat didengar. Jenis media audio yang dapat digunakan di dalam kelas adalah berbagai jenis alat rekaman seperti tape, rekorder, cassette, dan radio.
b) Media Visual yaitu media yang hanya dapat dipandang karena cara penggunaan media tersebut melalui pandangan/ pengelihatan mata.
Dalam pembelajaran banyak media yang biasa digunakan baik audio maupun visual yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, seorang guru harus terampil dalam memilih dan  menggunakan media pembelajaran.
g. Penentuan Penilaian atau Evaluasi
 Penentuan penilaian pada silabus bahasa Indonesia berdasarkan hasil belajar siswa yang sesuai dengan kebutuhan, dan perencanaan pembelajaran yang digunakan. Pembelajaran di kelas akan lebih (efesien dan efektif). Proses analisis terhadap tujuan pembelajaran bahasa Indonesia baik meteri, dan bentuk evaluasi  yang akan diberikan kepada siswa  akan membantu siswa mengetahui kemampuannya dalam memperoleh materi
Menurut Mulyasa (2006:212) rencana pelaksanaan pembelajaran adalah    rencana yang menggambarkan prosedur  dan manajemen pelajaran untuk mencapai satu atau lebih kompetensi dasar yang terdiri atas satu indikator atau beberapa indikator untuk satu kali pertemuan atau lebih. Dalam KTSP, guru diberikan wewenang secara leluasa untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan karakteristik dan kondisi sekolah, serta kemampuan guru itu sendiri dalam menjabarkannya menjadi pelaksanaan pembelajaran yang siap dijadikan pedoman pembentukan kompetensi peserta didik
Berdasarkan peraturan  Pemerintah RI Nomor 19 tahun 2005 standar proses pembelajaran meliputi perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Guru sebagai fasilatator mempunyai peranan penting dalam menyiapkan  pembelajaran sebelum di laksanakan di dalam kelas.
Perencanaan proses pembelajaran meliputi sebagai berikut.
a.  Silabus
Silabus sebagai acuan pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. Setiap pendidik berkewajiban menyususn RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpatisipasi aktif.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk setiap kompetensi dasar yang dapat dilaksanakan dalam aktivitas pembelajaran. Pendidik (guru) merancang RPP untuk setiap aktivitas pemebelajaran yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP meliputi sebagai berikut.
a)  Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester/tingkatan, program, mata pelajaran atau tema pelajaran, dan jumlah aktivitas pembelajaran.
b)  Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, siskap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas/semester pada suatu mata pelajaran.
c)  Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kmpetensi dalam suatu pelajaran.
d)  Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran.
e)  Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dari hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
f)  Materi ajar
Materi ajar memuat fakta. Konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
g)  Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian kompetensi dasar dan beban belajar.
h)  Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yag telah ditetapkan.
Kegiatan pembelajaran meliputi sebagai berikut.
(a)   Kegiatan awal
Kegiatan awal merupakan awal suatu pertemuan pembelajaran yang ditunjukan untuik membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
(b)  Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, memantang dan lainnya.
(c)  Kegiatan akhir
Kegiatan akhir merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, umpan balik, atau tindak lanjut.
i) Sumber belajar
Sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi.
j) Penilaian hasil belajar
Prosedur penilaian disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu pada standar penilaian.
Prinsip-prinsip penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (PERMENDIKNAS NO.19 TAHUN 2005) sebagai berikut.
a. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik.
b. Mendorong partisipasi peserta didik.
c. Mengembangkan budaya membaca dan menulis.
d. Memberi umpan balik dan tindak lanjut.
e. Keterkaitan dan keterpaduan.
f. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi.
Persiapan atau perencanaan lebih ditekankan pada persiapan atau prencanaan akademis. Beberapa kegiatan penting yang perlu dilakukan pada tahapan ini:
a. guru mengecek atau membuat silabus;
b. guru menentukan tujuan pembelajaran;
c. guru membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
d. guru memilih model intruksi yang dipakai dan lain bantu pengajaran lain yang  relevan;
e. guru menentukan cara penilaian atau evaluasi yang akan dipakai untuk mengetahui   kemajuan belajar siswa;
f. guru menentukan kapan pengajaran dimulai dan dimana pengajaran itu dilaksanakan;
g.  menentukan buku bacaan wajib dan pilihan; dan
h. guru membuat ringkasan informasi pelajaran yang dituliskan dua atau tiga halaman dan dibagikan kepada siswa, agar semua yang disampaikan atau dijelaskan oleh guru dapat dimengerti oleh siswa. (PERMENDIKNAS NO. 19 TAHUN 2005)
Disamping mempersiapkan hal-hal yang bersifat teknis tersebut, pengajar perlu melakukan persiapan akademis dalam arti bahwa ia juga harus belajar dan menguasai apa yang akan diajarkan. Bila pengajar khawatir lupa atau  bahan ajar yang diberikan itu tidak sistematis, maka pengajar tersebut harus membuat catatan yang berupa ringkasan bahan ajar atau sekedar garis-garis besar dari apa yang akan diberikan.
E. Pelaksanaan Pembelajaran Bahasa Indonesia
 Situasi yang dihadapi guru dalam melaksanakan pengajaran mempunyai pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar itu sendiri. Guru sepatutnya peka terhadap berbagai situasi yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Seharusnya guru dapat menyesuaikan pola tingkah laku dalam mengajar terhadap situasi yang dihadapi. Seperti halnya diungkapkan oleh Umar dan Syambasril dalam bukunya mengungkapkan bahwa seorang guru yang baik perlu memiliki persyaratan sehingga dapat melaksanakan tugasnya sebagai berikut.
a. Penguasaan materi pelajaran
b. Kemampuan menerapkan prinsip-prinsip psikologi
c. Kemampuan menyelenggarakan proses belajar mengajar
            d. Kemampuan menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. (Umar dan Syambasril, 2006:4-6)
Keempat persyaratan di atas merupakan faktor yang sangat penting dan harus dimiliki seorang guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik. Sardiman (2004:166), mengemukakan bahwa sebagai seorang guru dalam menyampaikan materi pelajaran di kelas perlu memperhatikan hal sebagai berikut.
a.   Menyampaikan materi pelajaran dengan baik dan jelas.
b.   Pertanyaan yang diajukan cukup merangsang untuk berpikir, mendididk dan mengenai sasaran.
c.    Memberikan kesempatan atau mencapaikan kondisi yang dapat menimbulkan pertanyaan dari siswa.
d.   Terlihat adanya variasi dalam pemberian materi dalam kegiatan.
e.   Guru selalu memperhatikan reaksi dan tanggapan yang berkembangan pada diri siswa baik verbal maupun nonverbal.
f.     Memberikan pujian dan penghargaan bagi jawaban yang tepat bagi siswa dan sebaliknya mengarahkan jawaban yang kurang tepat.
Guru sebagai pelaksana proses belajar mengajar dituntut memiliki berbagai keterampilan dalam menyelenggarakan kegiatan pengajaran di kelas yang dapat mengantarkan siswa mencapai tujuan yang telah direncanakan, agar proses pembelajaran di kelas berlangsung dengan baik.
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, (PERMENDIKNAS NO.19 TAHUN 2005), meliputi kegiatan pendahuluan, Kegiatan inti, dan Kegiatan penutup.
a.  Kegiatan pendahuluan
     Dalam kegiatan pendahuluan, pendidik melaksanakan hal sebagai berikut.
a)  Guru menyiapkan kondisi pembelajaran agar peserta didik terlibat baik secara psikis maupun fisik sehingga siap mengikuti proses pembelajaran.
b)   Guru mencatat kehadiran peserta didik.
c)   Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
d)  Guru menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
e)  Guru mengajukan pertanyaan berkenaan dengan pengetahuan yang sudah dimiliki peserta didik untuk mengaitkan dengan materi yang akan dipelajari.
b. Kegiatan inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai kompetensi dasar yang dilakukan secara interaktif, insprinsif, menyenangkan dan lainnya. Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
a) Eksplorasi
 Dalam kegiatan eksplorasi, pendidik melaksanakan hal sebagai berikut.
(a)     Guru membimbing peserta didik untuk mendemontrasikan pengetahuan yang dimiliki sesuai dengan topik/tema yang akan dipelajari.
(b)     Guru melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan mendalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dari berbagai sumber belajar dan memanfaatkan alam dan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
(c)     Guru menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lainnya.
(d)     Guru memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan pendidik, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
(e)     Guru melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan    pembelajaran.
(f)   Guru memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan dilaboraturium, studio,   dan lapangan.
b) Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, pendidik melaksanakan hal sebagai berikut.
(a)  gagasan baru secara lisan maupun tulisan.
(c) Guru memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, memecahkan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut.
(d) Guru memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaborasi.
(e)  Guru memfasilitasi  peserta didik berkompetensi secara sehat untuk  meningkatkan prestasi belajar.
(f)   Guru memfasilitasi  peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tulisan, secara individual maupun kelompok.
(g) Guru memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok.
c) Konfirmasi
Dalam kegiatan konfirmasi, pendidik melaksanakan hal sebagai berikut.
(a) Guru memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik.
(b) Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
(c) Guru memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan.
(d) Guru memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar.
c. Kegiatan penutup
Dalam kegiatan penutup, pendidik melaksanakan hal sebagai berikut.
a)   Guru bersama-sama dengan peserta didik membuat rangkuman/ kesimpulan pelajaran.
b) Guru bersama peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
c)   Guru melakukan penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
d)   Guru memberi umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran.
e)   Guru melakukan kegiatan perencanaan tindak lanjut.
f)   Guru memotivasi peserta didik untuk mendalami materi pembelajaran melalui kegiatan belajar mandiri.
g) Guru menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Kegiatan mengajar harus merupakan suatu rangkaian utuh dari setiap tahapan mengajar. Artinya tahap demi tahap harus tampak secara berkesinambungan dari awal sampai akhir pelajaran. Secara umum menurut  Sudjana (1989:68) ada tiga tahapan besar dalam mengajar, yakni: ”Tahapan Pemula, Tahapan Pengajaran, dan Tahapan Penilaian atau Tidak Lanjut.”
Untuk lebih jelasnya langkah-langkah dari pendapat Sudjana dijelaskan sebagai berikut.
a. Prainstruksional
 Tahap pra instruksional adalah tahapan yang ditempuh guru saat ia masuk kelas untuk mengajar (Sudjana, 1989:88). Adapun hal-hal yang dilakukan oleh guru sehubungan dengan kegiatan belajar-mengajar yang akan berlangsung sebagai berikut.
a) Guru menanyakan kehadiran siswa dan mencatat siswa yang tidak hadir. Ini menyangkut urusan absensi, termasuk tuntutan administrasi pengajaran.
 b) Guru bertanya kepada siswa, pada pembahasan pelajaran sebelumnya. Hal ini bukan karena guru sudah lupa, tetapi untuk mengecek atau menguji kembali ingatan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah dipelajari. Dengan demikian guru akan mengetahui ada tidaknya kebiasaan belajar siswa di rumah sendiri.
c) Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa tentang bahan pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tentang pemahaman materi yang telah diberikan.
d) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai bahan-bahan pelajaran yang belum dikuasainya dari pelajaran yang telah diberikan sebelumnya.
Dari penjelasan di atas sudah dapat dilihat bahwa sejak kegiatan pra instruksional saja seorang guru sudah harus menerapkan metode, teknik, media, dan sumber belajar  mengajar bahasa Indonesia yang tepat.
b. Tahap Instruksional
Tahap kedua adalah tahap pengajaran atau tahap inti, yakni tahapan membahas bahan yang telah disusun oleh guru sebelumnya, (Sudjana, 1989:89). Secara umum pada tahapan ini dapat diidentifikasikan beberapa kegiatan sebagai berikut.
a) Guru menjelaskan kepada siswa tujuan pembelajaran  yang harus dicapai siswa.
b) Guru menulis pokok-pokok materi yang akan dibahas hari itu sesuai dengan silabus dan tujuan pembelajaran.
c) Guru membahas pokok-pokok materi yang dituliskanya tadi (untuk poin a, b, dan c tentunya dalam hal ini diterapkan metode ceramah).
d) Pada setiap pokok materi yang dibahas sebaiknya harus diberikan contoh yang jelas. Demikian pula siswa harus diberikan pertanyaan atau tugas untuk mengetahui tingkat pemahaman setiap pokok materi yang telah dibahas. Dengan demikian penilaian tidak hanya pada akhir pelajaran, tetapi juga pada saat mengajar berlangsung (untuk poin d dapat diterapkan metode mengajar bahasa Indonesia yaitu metode demontrasi, bermain peran, tanya jawab, dan penugasan).
e) Penggunaan alat bantu untuk memperjelas pembahasan setiap pokok materi yang sangat diperlukan.
Alat peraga menurut Sudjana (1989:71) digunakan dalam empat fase kegiatan sebagai berikut;
a.  pada waktu guru menjelaskan bahan kepada siswa;
b.  pada waktu guru menjawab pertanyaan siswa sehingga jawabanya lebih jelas;
                     c.  pada waktu guru mengajukan pertanyaan kepada siswa atau pada waktu 
memberi tugas kepada siswa;
d. dipergunakan oleh siswa pada waktu ia mengerjakan tugas yang   diberikan guru dan pada waktu siswa melakukan kegiatan belajar; dan
f.  menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi.
c.  Tahapan Tindak Lanjut
 Tujuan tahapan ini ialah untuk mengetahui tingkat keberhasilan tahapan kedua. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap ini sebagai berikut.
a) Mengajukan pertanyaan kepada beberapa siswa mengenai semua pokok meteri yang telah dibahas pada tahapan kedua. Pertanyaan dapat dilaksanakan dalam bentuk lisan dan dapat pula dalam bentuk tulisan.
b)    Untuk memperkaya pengetahuan siswa mengenai materi yang dibahas, guru dapat memberikan tugas pekerjaan rumah yang ada hubunganya denga topik atau pokok bahasan yang telah dibahas. Akhir pelajaran dengan memberitahukan pokok materi yang akan dibahas pada hari berikutnya, ini perlu untuk dipelajari siswa di rumah.
Inilah letak keterampilan profesional guru, khususnya dalam melaksakan kegiatan belajar-mengajar. Kemampuan mengajar seperti yang dilukiskan dalam uraian di atas secara teoritis mudah dikuasai, namun dalam prakteknya tidak mudah digambarkan seperti di atas.
Oleh karena itu  Hasibuan dkk, (dalam Saharudin, 1997:32) menjelaskan ada beberapa keterampilan dasar diutamakan guru dalam kegiatan belajar mengajar, supaya dapat terpadu dengan baik ketiga tahapan di atas dan kegiatan belajar mengajar bisa mencapai tujuan pembelajaran yang didinginkan. keterampilan dasar yang diutamakan sebagai berikut.
1. keterampilan memberikan penguatan
      2. keterampilan bertanya
      3. keterampilan menjelaskan
      4. keterampilan membuka dan menutup pelajaran
      5. keterampilan menggunakan variasi
      6. keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan
      7. keterampilan mengelola kelas
      8. keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil.
Inilah tahapan yang harus dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar yang ditunjang dengan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh guru sebagaimana di atas. Keberhasilan proses pelaksanaan pembelajaran di kelas sangat bergantung pada guru dalam menguasai kelas dan menerapkan kemampuan yang dimiliki sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas dapat berlangsung dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsemi. 1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakatra: Balai pustaka.
Depdiknas. 2007. Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional (http: //www.Dikdasdki. go. Id/ download/ standar proses. dok, diakses 10 Oktober 2009 ).
E. Mulyasa. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Hamalik, Oemar. 1992. Psikologi Belajar dan Mengajar. Bandung: Sinar Baru.
Husen, Akhlan .1997. Perencana Pengajaran Bahasa. Jakarta. Depdiknas.
Harjanto. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta
Keraf, Gorys. 1996. Trampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Kusnadi. 2004. Pengajaran Menulis Surat Lamaran Pekerjaan di Kelas III Semester 1 MAS AL- Huda Jongkong Tahun Pembelajaran 2003/2004. Skripsi Universitas Tanjungpura.
Murni, Jenita. 2007. Pengajar Bahasa Indonesia Pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 1 Kembayan Kabupaten Sanggau Tahun Ajar 2006/2007. Skripsi Universitas Tanjungpura
Moleong, Lexy. J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mutia, Ria. 2008. Relevansi Bahan Pembelajaran Berbahasa dan Sastra Indonesia SMP Kelas VII Terbitan 2007 Erlangga dengan Standar Isi. Skripsi Universitas Tanjungpura.
Mustaqim, Hariyono. 2007. Perencanaan Guru Bidang Studi Ekonomi Dalam Menginplementasikan KTSP di SMA Mujahidin Pontianak. Universitas Tnjungpura
Nurgiantoro, Burhan.1987. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra  Indonesia.Yogyakarta: BPFE.
Nana Sudjana.1975. Metode Stastistika. Bandung: Tarsito.
Nana Sudjana. 1995. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Argensindo.
Nawawi, Hadari.1991. Metodologi Penelitian Sosial.Yogyakarta: Gajah Mada Press.
Porwadarminta, W.J.S. 2005. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakatara: Debdikbud.
Permendiknas. 2006. Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen pendididkan Nasional(http: //www. Permendiknas. go.id/download/ standar kompetensi. doc, diakses 10 Oktober 2009).
Pringgawidagda, Suwarna. 2002. Strategi Penguasaan Berbahasa. Yogyakarta: ADI CIPTA KARYA NUSA.
Subana, M. dan Sunarti. 2002. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Setia.
Saharudin. 1997. Penerapan Metode Mengajar Guru Mata Pelajaran Agama Islam Madrasa Aliyah Negeri Sanggau 1996/1997. Skripsi Muhammadiyah Pontianak.